BANGUN INDONESIA

Kamis, 05 Februari 2026

KEDAULATAN GIZI ATAU INVASI GIZI? Catatan Pinggiran Pendamping Desa

Di balai desa, Pak Kades dan pengurus BUMDes "Tani Mandiri" duduk melingkar mengelilingi secangkir kopi yang sudah dingin. Di luar sana, deru truk-truk besar berlogo kontraktor pusat hilir mudik membawa material untuk dapur satelit raksasa. Itulah proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) sebuah mega proyek yang menjanjikan gizi bagi ribuan anak sekolah di kecamatan mereka.

Harapan yang Menepi

Awalnya, BUMDes "Tani Mandiri" sangat bergairah. Mereka punya gudang penyimpanan, tiga hektare sawah garapan warga, dan ternak ayam petelur yang dikelola secara kolektif. Pak Kades membayangkan skenario indah: telur dari kandang warga akan mendarat di piring anak-anak sekolah, dan beras lokal akan mengisi perut generasi masa depan.

Namun, realitanya berkata lain.

  • Standar Korporasi: Pihak pengelola pusat mensyaratkan pasokan bahan baku dalam skala tonase yang stabil tiap harinya. BUMDes yang mengandalkan panen musiman langsung gugur dalam seleksi administrasi.

  • Sertifikasi Rumit: "Harus ada sertifikat ini-itu, Pak. Kita ini cuma punya semangat, bukan dokumen sebanyak itu," keluh Pak RT, pengelola kandang ayam.

  • Logistik Terpusat: Truk-truk yang lewat itu ternyata membawa bahan baku dari distributor besar di kota, yang sudah dikontrak secara nasional.


Menjadi Penonton di Rumah Sendiri

Sore itu, mereka hanya bisa melihat dari kejauhan saat seragam-seragam necis turun dari mobil mewah untuk meninjau fasilitas dapur megah tersebut.

"Lucu ya," celetuk Pak Kades pahit. "Anak-anak kita makan telur yang didatangkan dari luar provinsi, sementara telur ayam BUMDes kita harus dikirim ke pasar kota dengan harga tengkulak karena kita kalah saing di sini."

Program Ketahanan Pangan BUMDes yang digadang-gadang jadi tulang punggung ekonomi desa, kini hanya menjadi catatan kaki. Mereka punya barangnya, mereka punya lahannya, tapi mereka tidak punya "pintu masuk" ke dalam sistem yang terlalu besar itu.

BUMDes "Tani Mandiri" kini hanya bisa menonton. Mereka menyaksikan bagaimana ekonomi berputar cepat di atas kepala mereka, tanpa pernah benar-benar menyentuh tangan para petani yang berlumpur. Proyek MBG sukses besar, namun bagi BUMDes, itu hanyalah tontonan kolosal tentang bagaimana mereka terasing di rumah sendiri.


Pelajaran dari Balai Desa

Hari semakin sore. Pak Kades menutup buku laporannya. "Mungkin kita terlalu kecil untuk naga sebesar itu. Tapi besok, kita tetap harus kasih makan ayam-ayam kita. Setidaknya, mereka tidak butuh sertifikat untuk tetap bertelur. Namun, menyerah bukan berarti kalah, kita hanya sedang dipaksa ganti strategi. Jika dapur besar itu menutup pintu bagi hasil bumi kita karena alasan administratif, maka tugas kita sekarang adalah merapatkan barisan antar desa; membangun konsorsium BUMDes agar skala produksi kita tak lagi dianggap remah-remah. Kita akan membuktikan bahwa kemandirian pangan bukan sekadar angka di atas kertas kontrak proyek pusat, melainkan tentang siapa yang tetap mampu memberi makan warganya sendiri ketika truk-truk besar itu suatu saat nanti berhenti melintas."


3 komentar: