BANGUN INDONESIA

Kamis, 12 Februari 2026

Anggaran yang Mengenali Wajah Pemiliknya (Catatan Impian di Ruang Musrenbangcam)


Musrenbangcam sering kali kita lihat sebagai sebuah koridor sempit. Sebuah lorong di mana ratusan usulan dari desa-desa harus berdesakan, saling sikut untuk mendapatkan jalan keluar menuju kabupaten. Namun, saya sering berangan-angan, bagaimana jika ruang Musrenbang di kecamatan itu berubah menjadi ruang perjumpaan hati? 

Di ruang Musrenbangcam itu,  Saya bermimpi anggaran mengenali wajah pemiliknya.

Saya membayangkan para delegasi desa datang tidak hanya membawa tumpukan dokumen tebal, tapi membawa potret kehidupan. Di depan meja pimpinan sidang, mereka tidak lagi hanya berdebat soal volume semen atau lebar drainase. Sebaliknya, mereka mulai bercerita tentang wajah seorang lansia di pelosok dusun yang butuh layanan kesehatan jemput bola, atau tentang wajah-wajah perempuan tangguh yang butuh modal usaha untuk menggerakkan ekonomi keluarga.

Dalam angan saya, Musrenbangcam bukan lagi ajang "adu kuat" pengaruh politik, melainkan ajang "adu empati". Anggaran yang dibahas mulai mengenal wajah anak-anak yang putus sekolah di desa seberang. Ia tidak lagi buta; ia menolak dialokasikan untuk renovasi pagar kantor yang masih kokoh, karena ia sadar ada wajah-wajah balita stunting yang lebih butuh asupan gizi secepatnya.

Saya membayangkan Camat, Kepala Desa, hingga Anggota Dewan duduk bersama, menatap peta kecamatan bukan sebagai hamparan lahan yang harus dikapling proyek, tapi sebagai satu tubuh yang utuh. Di mata mereka, anggaran adalah darah yang harus mengalir ke bagian tubuh yang paling sakit dan paling lemah.

Ketika palu sidang diketuk di tingkat kecamatan, bunyinya tidak lagi terasa kering dan birokratis. Bunyi itu harus terdengar seperti sebuah janji. Sebuah janji bahwa suara kelompok marginal, kaum perempuan, dan anak-anak tidak "hilang di tengah jalan" saat dibawa ke kabupaten.

Alangkah indahnya jika hasil Musrenbangcam bukan sekadar berita acara yang dingin, melainkan sebuah naskah kemanusiaan. Di sana, tertulis dengan jelas bahwa setiap rupiah yang kita perjuangkan hari ini telah mengenal wajah pemiliknya—ya..pemilik sah anggaran itu, mereka yang menaruh harapan besar di balik meja-meja sidang kita.

Sebab pada akhirnya, suksesnya sebuah Musrenbangcam bukan diukur dari berapa banyak usulan yang diterima, tapi dari seberapa akurat anggaran itu menyentuh dan mengenali wajah mereka yang selama ini hanya bisa melihat pembangunan dari kejauhan.

Membayangkan, sebuah anggaran yang mengenali wajah pemiliknya.

Dalam angan saya, rupiah yang dialokasikan bukan lagi angka-angka dingin di atas kertas. Setiap sennya memiliki mata dan ingatan. Ia tahu betul wajah seorang ibu tunggal di ujung desa yang setiap malam terjaga, berharap ada pusat pelatihan yang bisa mengubah nasibnya. Anggaran itu tidak tersesat ke aspal yang sebenarnya masih mulus, karena ia lebih memilih singgah ke meja makan keluarga prasejahtera untuk memastikan tak ada lagi perut anak-anak yang keroncongan sebelum tidur.

Saya bermimpi melihat anak-anak kecil duduk melingkar bersama para pengambil kebijakan. Di sana, anggaran mengenali wajah mereka sebagai pemilik masa depan. Bukan aspal jalan yang mereka pinta, melainkan ruang-ruang bermain di mana mereka bisa berlari tanpa rasa takut, dan perpustakaan kecil di mana imajinasi mereka bisa terbang melampaui batas desa. Di mata anggaran itu, suara anak-anak bukan lagi gangguan, tapi kompas penunjuk arah pembangunan.

Lalu, saya membayangkan kawan-kawan disabilitas dan kaum marginal berdiri di barisan paling depan. Di ruang ini, anggaran mengenali wajah mereka bukan sebagai penerima santunan, melainkan sebagai warga negara yang berdaulat. Anggaran itu hadir dalam bentuk trotoar yang ramah, akses informasi yang inklusif, dan kebijakan yang memuliakan martabat mereka. 
Ia hadir karena ia "mengenal" bahwa tanpa mereka, pembangunan hanyalah sebuah bangunan megah yang tak punya jiwa.

Alangkah indahnya jika pembangunan tidak lagi dihitung dari berapa kilometer beton yang tertuang, tapi dari berapa banyak beban yang terangkat dari bahu-bahu yang selama ini terabaikan. Saya merindukan saat di mana para pejabat mengetuk palu sidang bukan karena tekanan politik, tapi karena mereka melihat wajah-wajah rakyatnya menatap dari balik lembaran RAPBD.

Sebab, pada akhirnya, anggaran yang paling hebat bukanlah yang paling besar jumlahnya, melainkan yang paling akrab dengan keringat, air mata, dan senyum pemilik aslinya: Rakyat.

0 comments:

Posting Komentar