BANGUN INDONESIA

Senin, 13 Oktober 2025

...dan Disini Merekam Makna

Bawa si Bocil keliling ke lokasi tugas pake motor, gak di nyana nyana eee komentar:

"Ayah, Kok Jalannya rusak banget kayak gini ya Yah..", Emang gak pernah dibenerin Tah Yah, terus kalau rusak gini yang benerin siapa Yah, Emang yang tukang benerin gak punya duit ya Yah, Kan katanya Kaya Yah...."

Runtun Pertanyaan tanpa jeda, dalam hati cuma berkata "ini anak tanya apa menghardik"  ah sudahlah pikiran anak anak, paling sebentar sudah lupa lagi...

"Yah, yah, denger enggak sih Adek Ngomong" kata si Bocil agak menahan Nafas karena melewati turunan Curam Berbatu tak beraspal... 

Tetap bungkam mulut ini tuk menjawab semua pertanyaan si Bocil,  masih berfikir jawaban apa yang tepat ...

 Terlintas dalam benak ini, Anak seusia itu sudah merekam apa yang  tersajikan dengan keadaan yang kurang ... tanpa tahu sebenarnya dibalik itu semua ada Suatu sebab yang besar yang belum dapat di mengerti si BOCIL...

 "Seandainya engkau paham Nak, seharusnya Jalanan yang akan Kau Lalui sekarang dan Nanti, sudah tak ada lubang menganga rusak tak terjamah, Negeri tempat engkau dilahirkan Kaya Raya Nak, tak terbilang berapa banyaknya yang dapat diperbuat dengan Harta Negeri ini, Tapi biarlah cukup Ayah yang tahu..."

 

Sejenak suasana hening, yang terdengar hanya deru mesin tua motor bebek 110 cc warna  merah keluaran tahun 2004...."Ayah, mana kantor ayah katanya ayah mau kerja kok gak sampai sampai di kantor" suasana pecah kembali dengan protes sobocil yang mungkin merasa bosan dengan suasana sepi dengan jalanan yang berbatu. "Ya sabar ya nak sebentar lagi kita sampai, jawabku menenangkan si bocil.

 DIkejauhan samar terlihat ada beberapa umbul umbul yang terpasang dan terdengar sayup alunan lagu dangdut koplo dari warung kopi langgananku setiap kunjungan ke desa ini. "Eh Pak Pendamping sudah datang, apa kabarnya pak?.... Gasik sekali datangnya pak, kan acaranya dimulai Jam 10 nanti pak..." Sapa penjaga kantor desa yang lagi menancapkan beberapa umbul umbul tersisa di perempatan dekat balai desa..."iya pak, mumpung masih pagi banyak yang harus di persiapkan juga untuk acara nanti..." Jawabku sambil menurunkan tas ransel yang biasa aku bawa. "Oh iya pak, Bubu anak Bapak ada dirumah kan?, nanti biar bisa bermain dengan anak saya, ini tadi maksa ikut, katanya mau ngelihat kantor tempat ayah kerja"..... "Hahahaha.... Ada ada aja anak bapak ini, kalau kantor Ayah banyak sekali Nak, ada dimana mana, yang ini salah satunya, ya udah sini sama Bapak, nanti main sama Bubu, kebetulan nanti mau bedah kolam belakang rumah, biar nanti ikut dengan Bubu nangkap ikan..."

 Si Bocil hanya tersenyum tipis mengiyakan tawaran si Bapak Penjaga Kantor Desa, terlihat ada sedikit rasa kesal mungkin karena apa yang diangankan tidak sesuai dengan kenyataannya...

 Hari itu cukup melelahkan, banyak agenda yang harus diselesaikan di desa ini, lelah memang dan semoga menjadi berkah, terlihat dikejauhan si Bocil sudah dapat menikmati suasana di desa ini, tawa lepas dan celotehan renyah mengalir tanpa jeda.

 "Pak pendamping,  agenda mengenai implementasi  Kepmen Ketahanan Pangan bagaimana pak, kami berharap Pak Pendamping bimbing kami, karena banyak yang belum kami pahami"  sambut Sekretaris Desa memecah hening setelah acara selesai...

 "Oh iya pak, nanti saya siapkan bahannya dulu pak, mungkin lusa atau minggu depan saya kemari lagi pak, tapi kalau saya tidak sempat berkunjung Bapak bisa telpon saya atau bisa Vid Call"...

 Tas ransel berisi laptop, kumpulan print out regulasi terbaru dan pernak pernik presentasi plus botol minum usang sudah siap untuk dibawa. Terlihat waktu di HP Android menunjukkan pukul 15:00. Saya pun bergegas meninggalkan Kantor Desa itu, menuju rumah Bapak Penjaga Kantor Desa dan menjemput si Bocil untuk Pulang.  

 "Bapak, terimakasih ya sudah direpotkan dengan si Bocil, oh ya dimana Bubu anak Bapak kok gak kelihatan"  Tanyaku sambil membereskan Pakaian si Bocil yang berserak karena habis mandi....

" Eee itu pak, tadi sehabis main di kolam mendadak Demam lagi pak, kemarin sudah dibawa ke Bidan Desa tapi ya itu Pak, saran Bidan Desa supaya di Rujuk aja ke Rumah Sakit di Kota karena radang amandelnya sudah parah...", oh iya pak, kalau mengurus BPJS yang sudah tidak aktif bagaimana ya Pak, Apakah Pak Pendamping bisa menolong saya, karena BPJS Keluarga saya  tidak aktif lagi sementara Bubu anak saya mesti dirujuk ke Rumah Sakit di Kota.

 Mak jleb...terasa bagai pukulan telak ke ulu ati. Karena baru tadi dibahas dengan Kepala Desa kalau didesa ini banyak warga masyarakat yang tidak mampu memiliki tunggakan iuran BPJS Kesehatan dan kartu yang dimiliki berstatus non aktif.  

 Teriris terasa hati ini, begitu besarnya harapan harapan mereka  yang ditujukan kepada Pendamping Desa, yang mereka anggap sebagai sosok yang dapat memecahkan setiap masalah mereka.... Tapi ironisnya Masalah yang ada dalam diri ini sebagai pendamping desa belum dapat terselesaikan.

 Hari itu pulang dengan membawa Pekerjaan Rumah yang besar, pekerjaan rumah sebagai seorang agen perubahan, sebagai seorang yang digantungi predikat pemecah masalah yang ada di masyarakat. " Ayah, kok diam aja sih yah, adek lapar loh Yah, tadi bekalnya adek dimakan bersama Bubu, kasihan loh yah, kata Bubu dirumah gak ada nasi, ibunya belum kirim uang...emang ibunya Bubu dimana Yah?" Kembali si Bocil membuka ruang otak ini untuk bekerja, "Ibunya Bubu kerja di Luar Negeri Nak". Jawabku menghentikan pertanyaan si Bocil..."oooo seperti ibunya Bagas ya yah di luar negeri" tapi kenapa keluar negeri yah? Emang disini gak ada yang kasih uang ya yah, kan banyak ikan, banyak pisang banyak kelapa memang itu gak bisa dijual ya Yah." Si Bocil kembali meretas alam sadarku untuk lembali berfikir...

 Nak, negerimu kaya raya banyak yang bisa diperbuat dengan kekayaan negeri ini, tak perlu ke luar negeri untuk mencari uang, di negeri ini banyak sekali uang yang belum digunakan....Dalam hati berguman beralibi atas pernyataan dan pertanyaan di Bocil.

 "Ayo nak kita mampir sebentar ke Rumah itu, Bapak ada janji mau ketemu Om Budi".... "Janji apa yah" si Bocil menimpali... "Ish pengen tahu aja, besok tu Ayah mau berkunjung ke Desanya Om Budi dan Ayah diminta untuk Sambutan acara Nikahan Anaknya Om Budi"...  "Ooooo, ' jawab si Bocil entah ngerti apa tidak....

 Hari semakin sore, deru mesin motor 110 CC semakin tak enak di dengar... Si Bocil sudah tak konsentrasi lagi sebentar bergoyang mencari posisi nyaman mungkin dia lelah dan mengantuk....pun diri ini, tugas hari ini mendampingi Desa yang terjauh masih banyak meninggalkan Pekerjaan Rumah, Pekerjaan Rumah yang tak akan pernah selesai....


0 comments:

Posting Komentar